Jumat, 15 Mei 2009

cerpen

Cerpen
SURABAYA 14 : 45

Suara memecah keheningan, hujan gerimis dan langit gelap. Saat itulah aku dilahirkan, di Surabaya 14 : 45. Aku menangis sejadi-jadinya tapi tak ada yang peduli. Ibu yang membawa surga tak juga tersenyum. Aku lahir saat itu, merasa sendiri. Kesepian musafir digurun sahara melebihi kesepianku. Aku memang dilahirkan dari rahim seorang wanita, tapi memandangiku seperti anak dari perut babi.
Aku Nar, tepatnya Narjanam. Nama yang sejak lahir kusandang. Nama yang diberi ibu yang tak peduli padaku. Juga merupakan sumpah kusumat ibuku. Nama merupakan doa, tapi itu bukan nama tapi penjerumus hidupku agar aku tinggal bersama koruptor, pencuri, pembunuh, orang munafik kelak dineraka jahanam. Walau begitu aku telah dilahirkan untuk kembalipun itu tak mungkin. Protes, kepada siapakah aku melakukan itu. Kepada ibu, dia tidak peduli. Kepada bapak, aku tak punya. Kepada Tuhan, aku tak ada hak.
Aku tinggal dijalan, bersama para begundal, bajingan, perampok selalu disekelilingku. “Rokok bang” teriakku dipinggir jalan. Aku penjual rokok keliling. Dengan itu aku hidup. Aku memang terlahir dari keluarga ningrat. Tapi aku suka jadi bocah jalanan. “dengan keningratan, aku bisa senang”. Itu pikiranku. Tapi hinaan, cacian terus menerorku. Anak haram, anak pelacur, anak babi suara yang terdengar saat aku keluar. Lagipula ibuku membenciku. Umur 3 bulan aku dibuang tapi kakek memungutku lagi. Aku frustasi akan kehidupan, kebencian, hinaan,. Aku lari dari kehidupan dan menjadi gelandangan seperti saat ini.
Kehidupan jalanan telah kulakoni. Pakaian compang-camping, rambut gimbal, wajah acak-acakan menjadi keseharianku. Porak poranda kehidupan makna kehidupanku. Merokok, miras, arak pernah kucoba. Tapi aku tak puas, aku ingin lebih sesuai kehendakku. Aku mulai bingung, gelisah. Siapa aku, mau apa aku hidup ? apa aku gadis hinaankah ? yang harus dihina seenak “udelmu”. Aku tak mau seperti itu.
“AKu ada karena lelaki hidung belang, kepahitan hidupku dipermainkan mereka”. Aku memilih untuk menjadi pelacur. Jati diriku telah hilang direnggut mereka dengan pemerkosaan kepada ibuku. Mungkin dengan persepsi seperti itu aku akan tahu siapa aku sebenarnya .
Malam ini aku memulai profesi baru. Berdandan sexy, pakaian pengundang nafsu kukenakan. “Mungkinkah kutemukan jati diriku disini ?” pikirku dalam hati. Disudut kanan dan kiri semua wanita dan pasangannya. Aku gugup dengan semua ini. Tapi ini jalan menuju jati diriku. Aku bertekad dan terus bertekad.
“Nona cari siapa kau ?”
“Tidak” aku gugup ketika melihat seorang wanita paruh baya didepanku.
“Anak baru”.
“Iya” menunduk kepala.
“Minta berapa ?” mengendus rokok.
“Terserah”
“Aku bertransaksi dengan wanita paruh baya. Mungkin dia germonya tapi ….
“Malam ini kau boleh main ?”
“Sekarang ?” tanyaku.
“Uh….” Mengenduskan rokoknya.
Ternyata dia yang punya lokalisasi. Aku mulai bekerja dilokalisasi itu. Awalnya risih tapi lama-lama terbiasa. Aku menjalani profesi baruku.
Puluhan laki-laki pernah bercumbu denganku, pernah seorang anggota DPR memintaku untuk nikah siri dengannya.
“Sayang, menikahlah denganku ! kau takkan lagi bekerja seperti ini” rayu anggota DPR.
“Aku menjadi pelacur bukan karena materi ataupun nafsu birahi tapi aku menjadi pelacur karena jati diri yang direnggut laki-laki bejat sepertimu”. Emosi naik tak terkontrol.
“”Ingatlah, anda punya anak istri yang butuh anda” kucoba menenangkan diriku. Dia lalu pergi entah kemana.
Dari sekian banyak “kucing” yang bercumbu denganku. Merampas harga diriku. Tapi aku belum menemukan apa yang selama ini kucari. Jati diriku. Kuputuskan untuk meninggalkan pekerjaan haramku dan lari dari kehampaan ini.
Digubuk tua ditengah pematang sawah kumenuju. Sepi, kerinduan, kehampaan, semakin menyiksa diri. Aku kalut dan terseret arus panggung neraka jahanam. Aku goreskan luka ditanganku. Perjalananku sia-sia belaka.
“Aku tak kuasa dengan semua ini”.
“Oh….alam salahkah aku dilahirkan diantara begundal”.
“Aku tak mau akan tahtamu menghidupkan aku bersama tempat-tempat ateish kaumMu”.
Surabaya 14 : 45. Kumenutup buku perjalananku, tulisan hidupku dan jati diri yang tak terungkap bersama tetesan merah dialiran sungai kecil menuju muara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar