Cerpen
SURABAYA 14 : 45
Suara memecah keheningan, hujan gerimis dan langit gelap. Saat itulah aku dilahirkan, di Surabaya 14 : 45. Aku menangis sejadi-jadinya tapi tak ada yang peduli. Ibu yang membawa surga tak juga tersenyum. Aku lahir saat itu, merasa sendiri. Kesepian musafir digurun sahara melebihi kesepianku. Aku memang dilahirkan dari rahim seorang wanita, tapi memandangiku seperti anak dari perut babi.
Aku Nar, tepatnya Narjanam. Nama yang sejak lahir kusandang. Nama yang diberi ibu yang tak peduli padaku. Juga merupakan sumpah kusumat ibuku. Nama merupakan doa, tapi itu bukan nama tapi penjerumus hidupku agar aku tinggal bersama koruptor, pencuri, pembunuh, orang munafik kelak dineraka jahanam. Walau begitu aku telah dilahirkan untuk kembalipun itu tak mungkin. Protes, kepada siapakah aku melakukan itu. Kepada ibu, dia tidak peduli. Kepada bapak, aku tak punya. Kepada Tuhan, aku tak ada hak.
Aku tinggal dijalan, bersama para begundal, bajingan, perampok selalu disekelilingku. “Rokok bang” teriakku dipinggir jalan. Aku penjual rokok keliling. Dengan itu aku hidup. Aku memang terlahir dari keluarga ningrat. Tapi aku suka jadi bocah jalanan. “dengan keningratan, aku bisa senang”. Itu pikiranku. Tapi hinaan, cacian terus menerorku. Anak haram, anak pelacur, anak babi suara yang terdengar saat aku keluar. Lagipula ibuku membenciku. Umur 3 bulan aku dibuang tapi kakek memungutku lagi. Aku frustasi akan kehidupan, kebencian, hinaan,. Aku lari dari kehidupan dan menjadi gelandangan seperti saat ini.
Kehidupan jalanan telah kulakoni. Pakaian compang-camping, rambut gimbal, wajah acak-acakan menjadi keseharianku. Porak poranda kehidupan makna kehidupanku. Merokok, miras, arak pernah kucoba. Tapi aku tak puas, aku ingin lebih sesuai kehendakku. Aku mulai bingung, gelisah. Siapa aku, mau apa aku hidup ? apa aku gadis hinaankah ? yang harus dihina seenak “udelmu”. Aku tak mau seperti itu.
“AKu ada karena lelaki hidung belang, kepahitan hidupku dipermainkan mereka”. Aku memilih untuk menjadi pelacur. Jati diriku telah hilang direnggut mereka dengan pemerkosaan kepada ibuku. Mungkin dengan persepsi seperti itu aku akan tahu siapa aku sebenarnya .
Malam ini aku memulai profesi baru. Berdandan sexy, pakaian pengundang nafsu kukenakan. “Mungkinkah kutemukan jati diriku disini ?” pikirku dalam hati. Disudut kanan dan kiri semua wanita dan pasangannya. Aku gugup dengan semua ini. Tapi ini jalan menuju jati diriku. Aku bertekad dan terus bertekad.
“Nona cari siapa kau ?”
“Tidak” aku gugup ketika melihat seorang wanita paruh baya didepanku.
“Anak baru”.
“Iya” menunduk kepala.
“Minta berapa ?” mengendus rokok.
“Terserah”
“Aku bertransaksi dengan wanita paruh baya. Mungkin dia germonya tapi ….
“Malam ini kau boleh main ?”
“Sekarang ?” tanyaku.
“Uh….” Mengenduskan rokoknya.
Ternyata dia yang punya lokalisasi. Aku mulai bekerja dilokalisasi itu. Awalnya risih tapi lama-lama terbiasa. Aku menjalani profesi baruku.
Puluhan laki-laki pernah bercumbu denganku, pernah seorang anggota DPR memintaku untuk nikah siri dengannya.
“Sayang, menikahlah denganku ! kau takkan lagi bekerja seperti ini” rayu anggota DPR.
“Aku menjadi pelacur bukan karena materi ataupun nafsu birahi tapi aku menjadi pelacur karena jati diri yang direnggut laki-laki bejat sepertimu”. Emosi naik tak terkontrol.
“”Ingatlah, anda punya anak istri yang butuh anda” kucoba menenangkan diriku. Dia lalu pergi entah kemana.
Dari sekian banyak “kucing” yang bercumbu denganku. Merampas harga diriku. Tapi aku belum menemukan apa yang selama ini kucari. Jati diriku. Kuputuskan untuk meninggalkan pekerjaan haramku dan lari dari kehampaan ini.
Digubuk tua ditengah pematang sawah kumenuju. Sepi, kerinduan, kehampaan, semakin menyiksa diri. Aku kalut dan terseret arus panggung neraka jahanam. Aku goreskan luka ditanganku. Perjalananku sia-sia belaka.
“Aku tak kuasa dengan semua ini”.
“Oh….alam salahkah aku dilahirkan diantara begundal”.
“Aku tak mau akan tahtamu menghidupkan aku bersama tempat-tempat ateish kaumMu”.
Surabaya 14 : 45. Kumenutup buku perjalananku, tulisan hidupku dan jati diri yang tak terungkap bersama tetesan merah dialiran sungai kecil menuju muara.
Tulislah Rencanamu Dengan Sebuah Pensil Tapi Serahkan Penghapusnya Ditangan Tuhan. Yakinlah Dia Hanya Menghapus Bagian-Bagian Yang Salah Dan Pastikan Mengganti Dengan Rencananya Yang Paling Indah.
Jumat, 15 Mei 2009
pemimpin idaman
Pemimpin Bersama Rakyatnya
Bukan di ruang santai
Geliat politik menuju pemilihan presiden [Pilpres] 2009 semakin memanas. Sejumlah tokoh sudah mendeklarasikan kesediaanya menjadi calon presiden [capres]. Berbeda dengan pilpres 2004, calon presiden mulai tampak didominasi oleh tokoh-tokoh muda. Sebut saja, misalnya, Fadjroel Rachman, Soetrisno Bachir, Rizal Mallarangeng, Ray rangkuti, serta sejumlah nama lainnya.
Semangat dan geliat politik ini patut diapresiasi. Sebab, menurut beberapa penelitian, kini publik mulai jenuh dengan tampilnya wajah-wajah lama dalam bursa pencalonan capres. Tokoh semacam Gus Dur, Amien Rais, Megawati, SBY, Wiranto, Jusuf Kalla, Sutiyoso, bahkan Prabowo merupakan wajah-wajah lama yang dianggap "gagal" membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat.
Dalam situasi demikian, menghadirkan pemimpin muda dalam kancah politik nasional menjadi sangat penting untuk mengembalikan proyek-proyek keindonesiaan yang gagal dipimpin oleh kaum tua.
Berbekal landasan epistemologis yang kuat, kaum muda ingin membuktikan eksistensinya di tengah stagnasi ekonomi-politik bangsa ini. Sebab, sejarah telah mengajarkan bahwa kaum muda selalu menjadi pelopor perubahan bangsa. Kemerdekaan yang selama ini kita nikmati adalah jerih payah kaum muda. Sejarah lahirnya gerakan Boedi Utomo, Sumpah Pemuda 1928, masa Orde Lama, pergantian Orde Lama ke Orde Baru, hingga reformasi 1998, juga ditorehkan oleh kaum muda. Maka, memunculkan kembali kaum muda sebagai pemimpin negeri ini sudah menjadi semacam kewajiban sejarah.
Di sisi lain, saat ini gagasan kepemimpinan kaum muda juga mendapat apresiasi dari kalangan luas. Riset Pusdeham (Agustus-September 2007) melaporkan 70% responden memerlukan pemimpin baru yang segar dan tegas untuk mengatasi problem bangsa kita. Hal tersebut kemudian diperkuat oleh riset Kompas pada 17/9/2007 tentang Capres 2009. Hasil tertingginya adalah keinginan masyarakat agar presiden tersebut merupakan tokoh baru 46%, berasal dari sipil 50%, ekonomi kelas menengah 47%. Lalu, polling MetroTV pada 4/11/2007 juga menguatkan hal yang sama. Sebanyak 55% dari 264 pemilih mengatakan bahwa layak bagi kaum muda untuk jadi presiden.
Memimpin berarti siap untuk bekerja dan siap untuk dikritik. Dan seorang pemimpin bertanggung jawab untuk memberikan semangat kepada orang lain serta menyediakan wadah dan sarana bagi orang lain untuk bekerja dan berbuat. Oleh karena itu, rakyat harus jeli dalam menentukan siapa yang Akan dipilih menjadi pemimpinnya. Bukan uang yang harus menentukan siapa yang harus dipilih, tapi gunkan hati nurani. Kenali dulu karakter, keseharian dan bagaimana cara bicaranya, agar kita tidak salah dalam memilih pemimpin. Lalu seperti apa pemimpin yang diinginkan rakyat Indonesia?
Pada 9 April yang lalu, kita telah memilih pemimpin yang kita inginkan. Yang jadi pertanyaan, apakah anda tahu karakteristik pemimpin tersebut? Pada pemilihan legislatif kemarin, banyak warga mengaku kesulitan untuk mengeluarkan hak pilihnya. Mulai dari cara pemilihan, banyaknya jumlah partai, itu sangat membingungkan. Apalagi ditambah calon legislatif yang jumlahnya sangat banyak. Bagaimana mungkin rakyat bisa menentukan pemimpin yang baik baginya, sedangkan mereka bingung bagaimana sistem pemilihan dan jumlah partai yang sangat banyak membuat mereka sangat males untuk untuk datang ke tempat pemungutan suara (TPS). Bahkan mereka mengaku tidak kenal dengan nama calon anggota DPD/DPRD. Contohnya, di Karawang terdapat 661 caleg, sedangkan yang akan di tetapkan menjadi anggota DPD/DPRD hanya 55 orang. Sungguh sangat menajubkan.
Para pakar bidang manajemen modern menyadari gaya kepemimpinan seperti Nabi Muhammad adalah gaya kepemimpinan yang harus diamalkan oleh para pemimpin sekarang. Pada tahun 1985, Tom Peters dan Nancy Agustin menulis buku yang berjudul “A Passion For Excellence”. Di dalamnya, mereka mengutarakan konsep manajemen yang dikenal dengan MBWA yaitu Managemen By Walking Around. Konsep ini menjadikan populer saat ini. Konsep ini menuntut pemimpin untuk turun ke bawah dan mendekati para bawahannya untuk berbincang, mendengar, memahami dan memberikan motivasi.
Penelitian menunjukan, beberapa rahasia kesuksesan perusahaan-perusahaan besar di dunia adalah para atasannya tidak mengutus dan memimpin bukan sekedar duduk di ruang berAC semata. Mereka harus turun bergaul dengan para pekerjanya. Hasil dari pergaulan itu, mereka memahami hal-hal yang diperlukan oleh perusahaan agar lebih sukses. Di dalam Skyhooks For Leadership menyatakan, perusahaan Howlett – Packard sebagai contoh yang menjalankan falsafah manajemen yang berorientasi manusia yang dikenal The HP Way (Abidin, 2007).
Kriteria pemimpin itulah yang selama ini diidamkan oleh masyarakat. Pemimpin yang peduli masyarakatnya, tidak mengumbar janji tetapi bersosialisasi agar mereka tahu bagaimana susahnya mencari uang, hidup bertidakkecukupan, kelaparan, hinaan karena kemiskinan dan lain sebagainya. Sehingga tidak mereka mempunyai rasa simpatik pada rakyatnya dan akan mengerti apa yang dirasakan rakyatnya saat ini. Karena dengan rasa simpatik, pemimpin akan memenuhi kebutuhan rakyatnya. Mereka tidak akan seenaknya menyalagunakan kekuasaannya, melakukan korupsi sehingga akan tercipta demokrasi yang damai. Tidak terjadi kekacauan dimana-mana.
Pada tahun 1974, Jules Masserman, seorang tokoh ilmu dalam bidang psikonalisis dari Amerika dan seorang profesor di Universitas Chicago, sewaktu memberikan pandangan beliau mengenai pemimpin teragung dalam sejarah mengatakan “Seorang pemimpin harus melaksanakan 3 (tiga) fungsi yaitu memelihara kesejahteraan para pengikutnya, mewujudkan sistem sosial yang aman dan terjamin, dan menyemalkan nilai kepercayaan untuk diikuti oleh para pengikutnya”. Setelah mengutarakan kriteria-kriteria itu, profesor Jules Masserman akhirnya berkata “tokoh-tokoh seperti pastur dan salk dapat dikategorikan pemimpin yang memiliki kriteria pertama. Alexander, Cabsor dan Hittler dikategorikan pemimpin yang melaksanakan fungsi kedua dan mungkin ketiga. Pemimpin palinbg unggul dalam sejarah adalah Muhammad karena beliau melaksanakan ketiga fungsi itu, disusul dengan Nabi Musa”. (Abidin, 2007).
Seorang pemimpin harus mampu mensejahterakan rakyatnya. Jangan malah melakukan penindasan. Apabila rakyat terpenuhi kesejahreaannya, maka tidak mungkin ada pencurian, perampokan, dan kerusuhan-kerusuhan lainnya karena yang menjadi faktor utama kasus-kasus tersebut adalah kurangnya kesejahteraan rakyat sehingga mereka terpaksa melakukan itu untuk memenuhi kebutuhannya. Sesuai fungsi yang kedua, seorang pemimpin harus mampu menjaga keamanan rakyat. Agar rakyat tidak ragu dan was-was dalam menyalurkan aspirasinya. Kita tahu, selama ini masih banyak terjadi kasus-kasus yang mencerminkan bobroknya sistem keamanan negara ini. Dan rakyat miskin masih kurang nyaman dalam memenuhi kebutuhan untuk bersosialisasi karena masih ada beberapa pihak yang selalu membeda-bedakan kasta. Untuk fungsi yang ketiga, seorang pemimpin harus mempunyai akhlak baik dan terpuji. Selain itu, seorang pemimpinj harus mempunyai kharisma kepemimpinan dan mempunyai keunggulan yang patut untuk dicontoh. Karena rakyat rindu dengan pemimpin yang bisa membimbing mereka ke jalan yang terbaik bukan malah menjerumuskan mereka. Contohnya gaya kepemimpinan Rosulallah SAW ketika menyelamatkan masyarakat dari kesyirikan dan keterpurukan moral yang tidak terlepas dari keagungan dan kepribadian dan sifat yang dimiliki Rosulallah SAW. Dalam waktu yang tidak terlalu lama Rosulallah SAW dapat menyelamatkan masyarakat jahiliyah. Dan keteladanan Rosulallah dalam memerintahkan sesuatu kepada sahabat selalu memberikan contoh kepada sahabat sehingga sahabat termotivasi dan semangat melaksanakannya. Sifat ketauladanan ini yang selalu membuat Rosulallah selalu berada di tengah-tengah sahabat sehingga mereka merasakan keberadaan Rosulallah.
Pemimpin yang ingin sukses harus memiliki keterampilan interpersonal. Keterampilan ini penting karena hubungan dan interaksi sesama manusia tidak dapat dihindari. Pergesekan, pertengkaran yang disebabkan karena tingkah laku yang menyalahi adab adab pergaulan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh oleh Imam Tabrani dan Al Bazzar, Nabi bersabda “Maukah aku tunjukan sesuatu yang dapat menaikkan derajadmu? Bersopansantunlah dengan mereka yang tidak memperdulikanmu. Maafkanlah mereka yang menzalimimu. Berilah mereka yang kikir kepadamu. Hubungilah mereka yang memutuskan persaudaraan denganmu. (Abidin, 2007).
Kehidupan Rosulallah sarat dengan sifat santun. Dalam dialog dan menasehati para sahabatnya, selalu mengedepankan sifat santun. Hal ini dapat dilihat sewaktu Rosulallah tidak pernah membuka aib sahabat kepada orang banyak. Apalagi mempermalukan, akan tetapi bahasa yang digunakan beliau untuk menasehati dan menegur sahabat di depan orang banyak dengan bahasa yang bersifat umum todak tertuju kepada orang tertentu. Tetapi, sahabat merasakan bahwa nasehat Rosulallah ditujukan pada pribadi-pribadi mereka. Sifat santun Rosulallah SAW dapat juga sewaktu melakukan dialog dan perjanjian politik dengan orang-orang kafir yang kadangkala membuat sahabat Rasulallah gerah dengan kesantunan belaiu.
Seorang pemimpin hendaknya mempunyai sifat toleransi, tidak mementingkan kepentingan pribadinya, baik keluarga maupun kepentingan dirinya sendiri. Para pemimpin haruslah bersosialisasi dan berada di tengah-tengah rakyatnya. Agar pemimpin tahu agar pemimpin mereka peduli rakyatnya dan rakyat percaya kalau pemimpinnya baik dan bijaksana.
John C Maxwell pengarang buku Developing The Leaders Around You mengatakan “Keterampilan interpersonal berkaitan erat dengan sifat tidak mementingkan diri sendiri, mampu memahami kehendak orang lain, dan senantiasa mementingkan pergaulan yang baik sesama manusia. Oleh karena itu, perlu untuk komit meningkatkan kemampuan-kemampuan rakyat agar rakyat sejahtera, menampung berbagai ide dan saran, mengikutsertakan rakyat dalam pengambilan keputusan, aktif mencarikan lapangan pekerjaan bagi rakyat yang menganggur. Selalu mendalami dan ikut merasakan kepedihan orang lain, karena setiap orang dengan kekhususan dan keunikan masing-masing berharap untuk diterima dan dikenal di lingkungannya. Seorang pemimpin yang peduli terhadap rakyatnya dapat merasakan jiwa kebapakan atau keibuan dari pemimpin tersebut.
Banyak pemimpin saat ini mengamalkan konsep “Bicara tidak sesuai kenyataan” segala nasehat dan seruan yang datang dari rakyat, mereka terima dengan perasaan tidak senang dan hati yang jengkel. Sebagai contohnya, bagaimana seorang David Letterman, seorang pembawa acara TV terkenal di Amerika menjadi bahan ejekan dan olok-olokan dari waktu ke waktu oleh presiden dan pemimpin tertinggi di Amerika karena David Letterman menyalurkan aspirasi rakyat tentang kritisi sistem pemerintahan. Begitu juga dengan banyak pemimpin saat ini.
Jika anda ingin menjadi pemimpin, maka bersiap-siaplah untuk dituntut oleh tuhanmu atas amanah yang kau pikul bersama rakyatmu. Kalau kau sanggup jadilah pemimpin yang diinginkan oleh rakyatmu. Agar tuhan tersenyum kepadamu.
Bukan di ruang santai
Geliat politik menuju pemilihan presiden [Pilpres] 2009 semakin memanas. Sejumlah tokoh sudah mendeklarasikan kesediaanya menjadi calon presiden [capres]. Berbeda dengan pilpres 2004, calon presiden mulai tampak didominasi oleh tokoh-tokoh muda. Sebut saja, misalnya, Fadjroel Rachman, Soetrisno Bachir, Rizal Mallarangeng, Ray rangkuti, serta sejumlah nama lainnya.
Semangat dan geliat politik ini patut diapresiasi. Sebab, menurut beberapa penelitian, kini publik mulai jenuh dengan tampilnya wajah-wajah lama dalam bursa pencalonan capres. Tokoh semacam Gus Dur, Amien Rais, Megawati, SBY, Wiranto, Jusuf Kalla, Sutiyoso, bahkan Prabowo merupakan wajah-wajah lama yang dianggap "gagal" membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat.
Dalam situasi demikian, menghadirkan pemimpin muda dalam kancah politik nasional menjadi sangat penting untuk mengembalikan proyek-proyek keindonesiaan yang gagal dipimpin oleh kaum tua.
Berbekal landasan epistemologis yang kuat, kaum muda ingin membuktikan eksistensinya di tengah stagnasi ekonomi-politik bangsa ini. Sebab, sejarah telah mengajarkan bahwa kaum muda selalu menjadi pelopor perubahan bangsa. Kemerdekaan yang selama ini kita nikmati adalah jerih payah kaum muda. Sejarah lahirnya gerakan Boedi Utomo, Sumpah Pemuda 1928, masa Orde Lama, pergantian Orde Lama ke Orde Baru, hingga reformasi 1998, juga ditorehkan oleh kaum muda. Maka, memunculkan kembali kaum muda sebagai pemimpin negeri ini sudah menjadi semacam kewajiban sejarah.
Di sisi lain, saat ini gagasan kepemimpinan kaum muda juga mendapat apresiasi dari kalangan luas. Riset Pusdeham (Agustus-September 2007) melaporkan 70% responden memerlukan pemimpin baru yang segar dan tegas untuk mengatasi problem bangsa kita. Hal tersebut kemudian diperkuat oleh riset Kompas pada 17/9/2007 tentang Capres 2009. Hasil tertingginya adalah keinginan masyarakat agar presiden tersebut merupakan tokoh baru 46%, berasal dari sipil 50%, ekonomi kelas menengah 47%. Lalu, polling MetroTV pada 4/11/2007 juga menguatkan hal yang sama. Sebanyak 55% dari 264 pemilih mengatakan bahwa layak bagi kaum muda untuk jadi presiden.
Memimpin berarti siap untuk bekerja dan siap untuk dikritik. Dan seorang pemimpin bertanggung jawab untuk memberikan semangat kepada orang lain serta menyediakan wadah dan sarana bagi orang lain untuk bekerja dan berbuat. Oleh karena itu, rakyat harus jeli dalam menentukan siapa yang Akan dipilih menjadi pemimpinnya. Bukan uang yang harus menentukan siapa yang harus dipilih, tapi gunkan hati nurani. Kenali dulu karakter, keseharian dan bagaimana cara bicaranya, agar kita tidak salah dalam memilih pemimpin. Lalu seperti apa pemimpin yang diinginkan rakyat Indonesia?
Pada 9 April yang lalu, kita telah memilih pemimpin yang kita inginkan. Yang jadi pertanyaan, apakah anda tahu karakteristik pemimpin tersebut? Pada pemilihan legislatif kemarin, banyak warga mengaku kesulitan untuk mengeluarkan hak pilihnya. Mulai dari cara pemilihan, banyaknya jumlah partai, itu sangat membingungkan. Apalagi ditambah calon legislatif yang jumlahnya sangat banyak. Bagaimana mungkin rakyat bisa menentukan pemimpin yang baik baginya, sedangkan mereka bingung bagaimana sistem pemilihan dan jumlah partai yang sangat banyak membuat mereka sangat males untuk untuk datang ke tempat pemungutan suara (TPS). Bahkan mereka mengaku tidak kenal dengan nama calon anggota DPD/DPRD. Contohnya, di Karawang terdapat 661 caleg, sedangkan yang akan di tetapkan menjadi anggota DPD/DPRD hanya 55 orang. Sungguh sangat menajubkan.
Para pakar bidang manajemen modern menyadari gaya kepemimpinan seperti Nabi Muhammad adalah gaya kepemimpinan yang harus diamalkan oleh para pemimpin sekarang. Pada tahun 1985, Tom Peters dan Nancy Agustin menulis buku yang berjudul “A Passion For Excellence”. Di dalamnya, mereka mengutarakan konsep manajemen yang dikenal dengan MBWA yaitu Managemen By Walking Around. Konsep ini menjadikan populer saat ini. Konsep ini menuntut pemimpin untuk turun ke bawah dan mendekati para bawahannya untuk berbincang, mendengar, memahami dan memberikan motivasi.
Penelitian menunjukan, beberapa rahasia kesuksesan perusahaan-perusahaan besar di dunia adalah para atasannya tidak mengutus dan memimpin bukan sekedar duduk di ruang berAC semata. Mereka harus turun bergaul dengan para pekerjanya. Hasil dari pergaulan itu, mereka memahami hal-hal yang diperlukan oleh perusahaan agar lebih sukses. Di dalam Skyhooks For Leadership menyatakan, perusahaan Howlett – Packard sebagai contoh yang menjalankan falsafah manajemen yang berorientasi manusia yang dikenal The HP Way (Abidin, 2007).
Kriteria pemimpin itulah yang selama ini diidamkan oleh masyarakat. Pemimpin yang peduli masyarakatnya, tidak mengumbar janji tetapi bersosialisasi agar mereka tahu bagaimana susahnya mencari uang, hidup bertidakkecukupan, kelaparan, hinaan karena kemiskinan dan lain sebagainya. Sehingga tidak mereka mempunyai rasa simpatik pada rakyatnya dan akan mengerti apa yang dirasakan rakyatnya saat ini. Karena dengan rasa simpatik, pemimpin akan memenuhi kebutuhan rakyatnya. Mereka tidak akan seenaknya menyalagunakan kekuasaannya, melakukan korupsi sehingga akan tercipta demokrasi yang damai. Tidak terjadi kekacauan dimana-mana.
Pada tahun 1974, Jules Masserman, seorang tokoh ilmu dalam bidang psikonalisis dari Amerika dan seorang profesor di Universitas Chicago, sewaktu memberikan pandangan beliau mengenai pemimpin teragung dalam sejarah mengatakan “Seorang pemimpin harus melaksanakan 3 (tiga) fungsi yaitu memelihara kesejahteraan para pengikutnya, mewujudkan sistem sosial yang aman dan terjamin, dan menyemalkan nilai kepercayaan untuk diikuti oleh para pengikutnya”. Setelah mengutarakan kriteria-kriteria itu, profesor Jules Masserman akhirnya berkata “tokoh-tokoh seperti pastur dan salk dapat dikategorikan pemimpin yang memiliki kriteria pertama. Alexander, Cabsor dan Hittler dikategorikan pemimpin yang melaksanakan fungsi kedua dan mungkin ketiga. Pemimpin palinbg unggul dalam sejarah adalah Muhammad karena beliau melaksanakan ketiga fungsi itu, disusul dengan Nabi Musa”. (Abidin, 2007).
Seorang pemimpin harus mampu mensejahterakan rakyatnya. Jangan malah melakukan penindasan. Apabila rakyat terpenuhi kesejahreaannya, maka tidak mungkin ada pencurian, perampokan, dan kerusuhan-kerusuhan lainnya karena yang menjadi faktor utama kasus-kasus tersebut adalah kurangnya kesejahteraan rakyat sehingga mereka terpaksa melakukan itu untuk memenuhi kebutuhannya. Sesuai fungsi yang kedua, seorang pemimpin harus mampu menjaga keamanan rakyat. Agar rakyat tidak ragu dan was-was dalam menyalurkan aspirasinya. Kita tahu, selama ini masih banyak terjadi kasus-kasus yang mencerminkan bobroknya sistem keamanan negara ini. Dan rakyat miskin masih kurang nyaman dalam memenuhi kebutuhan untuk bersosialisasi karena masih ada beberapa pihak yang selalu membeda-bedakan kasta. Untuk fungsi yang ketiga, seorang pemimpin harus mempunyai akhlak baik dan terpuji. Selain itu, seorang pemimpinj harus mempunyai kharisma kepemimpinan dan mempunyai keunggulan yang patut untuk dicontoh. Karena rakyat rindu dengan pemimpin yang bisa membimbing mereka ke jalan yang terbaik bukan malah menjerumuskan mereka. Contohnya gaya kepemimpinan Rosulallah SAW ketika menyelamatkan masyarakat dari kesyirikan dan keterpurukan moral yang tidak terlepas dari keagungan dan kepribadian dan sifat yang dimiliki Rosulallah SAW. Dalam waktu yang tidak terlalu lama Rosulallah SAW dapat menyelamatkan masyarakat jahiliyah. Dan keteladanan Rosulallah dalam memerintahkan sesuatu kepada sahabat selalu memberikan contoh kepada sahabat sehingga sahabat termotivasi dan semangat melaksanakannya. Sifat ketauladanan ini yang selalu membuat Rosulallah selalu berada di tengah-tengah sahabat sehingga mereka merasakan keberadaan Rosulallah.
Pemimpin yang ingin sukses harus memiliki keterampilan interpersonal. Keterampilan ini penting karena hubungan dan interaksi sesama manusia tidak dapat dihindari. Pergesekan, pertengkaran yang disebabkan karena tingkah laku yang menyalahi adab adab pergaulan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh oleh Imam Tabrani dan Al Bazzar, Nabi bersabda “Maukah aku tunjukan sesuatu yang dapat menaikkan derajadmu? Bersopansantunlah dengan mereka yang tidak memperdulikanmu. Maafkanlah mereka yang menzalimimu. Berilah mereka yang kikir kepadamu. Hubungilah mereka yang memutuskan persaudaraan denganmu. (Abidin, 2007).
Kehidupan Rosulallah sarat dengan sifat santun. Dalam dialog dan menasehati para sahabatnya, selalu mengedepankan sifat santun. Hal ini dapat dilihat sewaktu Rosulallah tidak pernah membuka aib sahabat kepada orang banyak. Apalagi mempermalukan, akan tetapi bahasa yang digunakan beliau untuk menasehati dan menegur sahabat di depan orang banyak dengan bahasa yang bersifat umum todak tertuju kepada orang tertentu. Tetapi, sahabat merasakan bahwa nasehat Rosulallah ditujukan pada pribadi-pribadi mereka. Sifat santun Rosulallah SAW dapat juga sewaktu melakukan dialog dan perjanjian politik dengan orang-orang kafir yang kadangkala membuat sahabat Rasulallah gerah dengan kesantunan belaiu.
Seorang pemimpin hendaknya mempunyai sifat toleransi, tidak mementingkan kepentingan pribadinya, baik keluarga maupun kepentingan dirinya sendiri. Para pemimpin haruslah bersosialisasi dan berada di tengah-tengah rakyatnya. Agar pemimpin tahu agar pemimpin mereka peduli rakyatnya dan rakyat percaya kalau pemimpinnya baik dan bijaksana.
John C Maxwell pengarang buku Developing The Leaders Around You mengatakan “Keterampilan interpersonal berkaitan erat dengan sifat tidak mementingkan diri sendiri, mampu memahami kehendak orang lain, dan senantiasa mementingkan pergaulan yang baik sesama manusia. Oleh karena itu, perlu untuk komit meningkatkan kemampuan-kemampuan rakyat agar rakyat sejahtera, menampung berbagai ide dan saran, mengikutsertakan rakyat dalam pengambilan keputusan, aktif mencarikan lapangan pekerjaan bagi rakyat yang menganggur. Selalu mendalami dan ikut merasakan kepedihan orang lain, karena setiap orang dengan kekhususan dan keunikan masing-masing berharap untuk diterima dan dikenal di lingkungannya. Seorang pemimpin yang peduli terhadap rakyatnya dapat merasakan jiwa kebapakan atau keibuan dari pemimpin tersebut.
Banyak pemimpin saat ini mengamalkan konsep “Bicara tidak sesuai kenyataan” segala nasehat dan seruan yang datang dari rakyat, mereka terima dengan perasaan tidak senang dan hati yang jengkel. Sebagai contohnya, bagaimana seorang David Letterman, seorang pembawa acara TV terkenal di Amerika menjadi bahan ejekan dan olok-olokan dari waktu ke waktu oleh presiden dan pemimpin tertinggi di Amerika karena David Letterman menyalurkan aspirasi rakyat tentang kritisi sistem pemerintahan. Begitu juga dengan banyak pemimpin saat ini.
Jika anda ingin menjadi pemimpin, maka bersiap-siaplah untuk dituntut oleh tuhanmu atas amanah yang kau pikul bersama rakyatmu. Kalau kau sanggup jadilah pemimpin yang diinginkan oleh rakyatmu. Agar tuhan tersenyum kepadamu.
Langganan:
Postingan (Atom)